cute

cute

Jumat, 29 November 2013

Artikel



SEMANA SANTA 

  
Larantuka adalah sebuah kota kecil di ujung timur Pulau Flores Nusa Tenggara Timur. Kota ini juga adalah ibukota kabupaten Flores Timur sebuah wilayah pemerintahan dengan luas 3.097,2 km2 dengan jumlah penduduk sekitar 300 ribu jiwa. Dalam catatan pariwisata global, tidak banyak obyek destinasi wisata hebat di kabupaten ini. Kabupaten tetangganya Lembata, mungkin jauh lebih dikenal karena wisata petualangan yakni perburuan tradisional ikan paus.

Namun, untuk wisata rohani, Larantuka pasti masuk dalam kalender kunjungan para peziarah Katolik dari berbagai penjuru dunia. Ada yang hebat di Larantuka terutama pada perayaan Paskah; ialah sebuah sajian inkulturatif adat istiadat setempat dengan tradisi Gereja Katolik dunia. Namanya Semana Santa. Semana Santa adalah sebuah tradisi lokal yang 'membaur' dengan tradisi Gereja Katolik, secara umum lebih dikenal sebagai peristiwa devosi kepada Bunda Maria yang dianggap sebagai Raja atau pelindung kota Larantuka yang sering disebut sebagai tanah nagi atau kota Reinha.Per Meriam ad Jesum; melalui Maria kita sampai kepada Yesus, demikian orang-orang Nagi meyakini.
Bunda Maria dalam Gereja Katolik adalah Tuan Ma dalam warisan budaya Larantuka
Kepercayaan terhadap Tuan Ma di Larantuka berawal lima abad silam. Berdasarkan penelitian dan sejumlah sumber tertulis dalam bahasa Belanda dan Portugis, patung Tuan Ma ditemukan sekitar tahun 1510 di Pantai Larantuka. Diduga, patung itu terdampar saat kapal Portugis atau Spanyol karam di Larantuka.
Kendati waktu itu masyarakat setempat belum mengenal patung tersebut, kepala kampung Lewonama, Larantuka, memerintahkan agar patung disimpan di korke. Patung kemudian dihormati sebagai benda keramat. Penduduk memberi sesaji setiap perayaan panen. Masyarakat sekitar Larantuka menyebut patung itu sebagai Tuan Ma. Secara harfiah, Tuan Ma berarti tuan dan mama. Masyarakat Lamaholot menyebutnya, Rera Wulan Tanah Ekan, Dewa Langit dan Dewi Bumi.

Sekitar tahun 1510 itu masyarakat Larantuka sudah melakukan devosi kepada Tuan Ma setiap Februari, sebagai syukur atas hasil panen dan tangkapan dari laut. Devosi merupakan kegiatan di luar liturgi gereja, praktik-praktik rohani yang merupakan ekspresi konkret keinginan melayani dan menyembah Tuhan melalui obyek-obyek tertentu.

Cerita berlanjut ketika Padri dari Ordo Dominikan datang ke kampung itu. Sang misionaris lalu diminta membaca tiga kata yang ”diabadikan” itu, terbaca: Reinha Rosario Maria. Ketika melihat patungnya, padri itu terharu dan berkata bahwa itulah Reinha Rosari yang dikenal juga sebagai patung Mater Dolorosa atau Bunda Kedukaan atau Mater Misericordia.

Sekitar tahun 1561, penyebaran agama Katolik oleh Portugis dimulai di Pulau Solor, yang kemudian dikenal misi Solor dengan menetapnya tiga misionaris, yaitu Pater Antonio da Cruz OP, Simao das Chagas OP, dan Bruder Alexio OP, di sana.

Tahun 1617, misionaris Portugis Pastor Manuel de Kagas berhasil memberi masukan pemahaman kepada raja-raja Larantuka. Dia menjelaskan, ”Tuan Ma yang disembah itu sebenarnya bernama Bunda Maria. Dia yang memiliki putra yang disebut Yesus Kristus. Yesus ini sebagai penebus dosa dan pembawa keselamatan”. Sejak itulah orang Larantuka yakin apa yang mereka sembah selama itu ternyata diakui secara universal.

Tahun 1650, Raja I Larantuka Ola Adobala dibaptis dan menyerahkan Kerajaan Larantuka kepada Bunda Maria. Setelah itu, putranya, Raja Don Gaspar I, pada 1665 mulai mengarak patung Maria keliling Larantuka. Dalam perkembangannya, Raja Don Lorenzo I bersumpah kepada Maria atau Tuan Ma dengan memberi gelar tertinggi kepada Maria sebagai raja orang Larantuka. Oleh karena itu, Larantuka disebut sebagai Kota Reinha (bahasa Portugis) atau Kota Ratu, Kota Maria.


Tuan Ma kemudian diyakini sebagai Bunda Maria milik orang Larantuka. Devosi kepada Maria menjadi sentral hidup keluarga dan masyarakat Larantuka. Per Mariam ad Jesum, melalui Maria kita sampai kepada Yesus. Proses inkulturasi pun terjadi antara kepercayaan masyarakat lokal, ajaran gereja, dan tradisi yang dibawa Portugis.



sumber: wikipedia, kompas.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar