cute

cute

Minggu, 08 Desember 2013



Dimanakah Pulau “Budak” Ellis?

M
eledaknya jumlah pekerja budak di selatan Amerika dan diberbagai pelosok Amerika, melalui penculikkan, pengangkutan dan penjualan diakibatkan oleh sebuah sistem  yang dikenal dengan nama “segitiga perdagangan budak.” Nama itu diambil dari tiga tahapan yang membentuk perdagangan budak. Para pedagang budak dari Eropa mengirimkan kapal – kapal ke barat Afrika untuk mengangkut warga Afrika yang diculik. Mereka kemuadian diangkut dengan kapal itu melintasi jalur tengah menuju Hindia Barat dan Amerika.
Di Amerika Serikat, para budak itu dijual di pasar – pasar. Mayoritas budak umumnya memasuki Amerika melalu pulau “Budak” Ellis, Charleston, SC. Mereka kemudian dipekerjakan di ladang – ladang kapas di sepanjang selatan Amerika. Meski demikian, dari 12.000.000 warga Afrika yang diculik dan dibawa ke Dunia Baru, para budak itu kebanyakan diturunkan di Karibia dan Amerika Selatan. Hanya sekitar 500.000 orang yang dipekerjakan di Amerika Serikat. Uang hasil penjualan budak tersebut dinikmati bersama oleh para pedagang Eropa dan Amerika.

Ekspor Budak dari Afrika:
       Tahun
Jumlah Budak
1450 – 1600
367.000
  1601 - 1700
1.868.000
1701 - 1800
6.133.000
1801 - 1900
3.330.000



Dikutip dari harian Kompas, Minggu,  15 September 2013


Sungai Kapuas

Bermula dari pegunungan di Kalimantan Tengah, sungai Kapuas mengalir ke arah barat sekitar 1.143 km sebelum akhirnya melebur ke laut China Selatan. Kapuas adalah singai terpanjang di Indonesia, disusul oleh sungai Sepik dan sungai Fly di Papua Nugini. Ketika sungai ini merupakan sungai pulau terpanjang di dunia. Lebih dari 70% wilayah Kalimantan Barat dialiri oleh sungai Kapuas, yang membuat wilayah ini terancam banjir pada saat musim hujan. Namun, ancaman banjir berkurang ketika air sungai Kapuas mengalir ke 14 danau yang berhubungan, yang dikenal sebagai danau – danau Kapuas.
Kaya dalam keragaman hayati, Kapuas memiliki 300 spesies ikan dan puluhan jenis tanaman atau binatang. Sungai ini juga menjadi sumber transportasi utama bagi barang dan penduduk. Kalimantan juga memiliki sungai besar lainnya di samping sungai Kapuas, yaitu sungai Barito, yang mengalir dari sisi berlawanan pegunungan yang sama menuju laut Jawa.














Dikutip dari harian Kompas, Minggu, 23 September 2013


Hewan primata apa yang tercepat?

Kera patas berlari begitu cepat sampai – sampai kadang dikira sebagai cheetah. Kera yang sulit ditangkap ini kadang memanjat pohon ketika merasa ada bahaya. Akan tetapi hewan ini cenderung berlari cepat dengan kecepatan hampir 55 kilometer/jam. Kera patas (Erythocebus Patas) berkaki besar dan panjang. Bulunya berwarna kemerah – merahan, sedangkan bagian bawah berwarna putih keabu – abuan. Hewan ini mempunyai belang warna gelap dari telinga ke telinga, melintas pada bagian mata yang besar dan ekspresif.


Patas yang dijumpai di sabana dan hutan di Afrika Tengah hidup berkomunal dalam kelompok – kelompok yang biasanya terdiri dari jenis jantan dewasa, sejumlah betina, dan anak – anak patas. Patas memakan serangga, reptil kecil, burung, telur burung, buah, daun dan akar. Kera patas juga disebut kera merah, kera tentara dan kera penari – julukan yang muncul karena kebiasaan melompat – lompat jika sedang bersuka hati. Meski tetap sebagai spesias yang tinggal di alam liar, kera patas menghadapi lahan hidup yang berkurang dan kadang dianggap sebagai hama oleh petani.



Dikutip dari harian Kompas, Minggu, 13 Oktober 2013
Negara mana yang
  terkecil di Asia?

Maladewa merupakan salah satu negara yang paling terpencar di bumi. Terletak di tengah Samudra Hindia, negara kepulauan ini memiliki 26 pulau karang yang tersebar sejauh 800 kilometer. Maladewa memanjang dari bawah garis ekuator ke arah barat daya (400 km) menuju ujung selatan India. Pulau – pulau karang ini membentuk dua baris memanjang sejauh 90.000 km. Terlepas dari penyebarannya, Maladewa merupakan negara terkecil di Asia. Populasinya hanya 328.540 orang dan luas daratannya hanya 298 km persegi. Setelah satu abad berada di bawah penjajahan, Maladewa memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1965.
Rata – rata tinggi permukaan daratan di Maladewa tak pernah lebih dari 1,5 meter diatas permukaan air laut, yang membuatnya sebagai negeri yang permukaannnya paling rendah di bumi. Naiknya air laut dan tsunami, seperti yang terjadi pada 2004, merupakan persoalan paling serius yang dihadapi republik kecil ini. 






Dikutip dari harian Kompas, Minggu 29 September 2013